Rabu, 01 Februari 2012

Usaha Batik Pekalongan.



Eddywan yang menjadi mahasiswa Undip sejak tahun 1978, mulai merintis usaha batik Pekalongan di kota Semarang pada tahun 1980. Secara kebetulan Eddywan yang asli kelahiran ‘Kota Batik’ Pekalongan itu telah memiliki sedikit pengetahuan tentang bisnis batik yang diturunkan dari orang tuanya yang juga bekerja di industri kerajinan batik.
Bagi sebagian orang, mungkin juga bagi kebanyakan orang, menuntut ilmu sebagai mahasiswa di perguruan tinggi membutuhkan konsentrasi penuh yang tidak bisa disambi dengan kegiatan lain yang sama-sama membutuhkan konsentrasi pikiran dan perhatian. Apalagi jika kegiatan sambilan tersebut turut menentukan kelangsungan studi di perguruan tinggi, karena pemenuhan kebutuhan biaya kuliah yang sangat tergantung pada keberhasilan dalam menjalankan bisnis sambilan itu. Tampaknya kondisi tersebut tidak berlaku bagi H. Eddywan, seorang pengusaha batik asal Pekalongan yang terbilang sukses dalam membangun bisnis batiknya. Usaha batik Pekalongan yang digeluti Eddywan pun telah dirintis sejak ia masih duduk di bangku kuliah, yaitu di Universitas Diponegoro (Undip), Semarang.

Bagi Eddywan, menjadi mahasiswa bukanlah halangan untuk merintis dan mengembangkan kegiatan usaha batik. Lebihlebih perguruan tinggi tempat ia menuntut ilmu, bukanlah perguruan tinggi kelas ecekecek, melainkan salah satu perguruan tinggi negeri terkemuka di Indonesia. Sewaktu masih menjadi mahasiswa, Eddywan muda selalu memanfaatkan setiap waktu luang yang dimilikinya untuk menjalankan bisnis batiknya. Tentu saja kegiatan bisnis itudilakoni Eddywan tanpa mengabaikan kewajibannya dalam menuntut ilmu sebagai mahasiswa. Hal itu dibuktikan Eddywan dengan diraihnya dua gelar sekaligus, yaitu gelar sarjana ekonomi dari Fakultas Ekonomi Undip dan gelar sebagai juragan batik yang sukses.

Untuk menunjang kegiatan bisnis batiknya, Eddywan sengaja memodifikasi ruang tamu rumah kontrakannya menjadi semacam showroom untuk memajang berbagai produk batik yang menjadi barang dagangannya. Untuk berbagai produk batiknya itu, Eddywan pun sudah berani memasang merk ‘Eddywan’ yang diambil dari namanya sendiri. Kegiatan bisnis batik makin digarap lebih serius setelah Eddywan menamatkan kuliahnya dari Undip. Langkah yang lebih serius lagi diambil Eddywan pada tahun 1990. Ketika itu Eddywan memutuskan untuk memindahkan kegiatan usaha batiknya dari Semarang ke kota kelahirannya, Pekalongan. Kepindahan Eddywan tersebut juga ditujukan untuk mengembangkan lebih lanjut usaha batiknya itu. Di Pekalongan itulah Eddywan kemudian mengembangkan desain-desain motif batik baru dengan menggunakan motif tradisional sebagai motif dasar. Di kota kelahirannya itulah Eddywan memperkenalkan merk baru untuk semua produk batiknya, yaitu Larissa yang diambil dari nama anak keduanya. Merk dagang Larissa dan sejumlah desain motif batiknya sejak tahun 2006 lalu sudah didaftarkan Eddywan ke Ditjen Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Jakarta.
Sejak kepindahannya ke Pekalongan, usaha batik Eddywan terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat konsumen yang datang dari sekitar kota Pekalongan sendiri maupun kalangan konsumen yang datang dari berbagai kota besar lainnya di Indonesia. Selain memproduksi batik tulis, Eddywan juga memproduksi batik cap dan batik printing. Batik tulis yang diproduksi bervariasi mulai dari batik halus yang proses pembuatannya bisa memakan waktu sampai 3 bulan, sampai batik super halus (sarimbit) yang pembuatannya bisa memakan waktu sampai 1 tahun. Batik printing biasanya diproduksi dalam jumlah besar untuk memenuhi permintaan pembuatan pakaian seragam.

Kain dasar yang dipergunakan untuk memproduksi kain batik pun bervariasi mulai dari kain katun, rayon, rami sampai kain sutera. Demikian juga jenis kain tenun yang dipakai sebagai kain dasar ada yang berupa kain tenun yang dihasilkan oleh alat tenun mesin (ATM) ada juga yang dihasilkan alat tenun bukan mesin (ATBM). Dia juga memiliki usaha konveksi yang memproduksi pakaian jadi (garmen) yang terbuat dari bahan berupa kain batik. Berbagai kain batik dan pakaian jadi produksi Eddywan dijual dengan harga yang sangat bervariasi mulai dari Rp 25.000 per potong sampai Rp 5 juta per potong. Kini usaha batik Larissa dan usaha konveksi milik Eddywan mempekerjakan sekitar 60 orang karyawan.
Selama ini produk kain dan pakaian jadi batik Larissa telah dipasarkan secara rutin ke berbagai kota besar di tanah air seperti Yogyakarta, Solo dan Jakarta. Kain batik dan pakaian jadi batik buatan Eddywan dipasok ke berbagai toko batik yang ada di kota-kota besar itu. Sejumlah toko batik di kota-kota tersebut ada yang menggunakan merek Larissa ada juga yang menggunakan merek milik toko itu sendiri.

Batik Larissa sendiri kini sudah cukup dikenal di kalangan konsumen dari berbagai daerah. Setiap harinya showroom batik Larissa di Pekalongan selalu saja dikunjungi para tamu dari luar kota yang sengaja datang ke tempat itu untuk mencari model-model dan desain batik terbaru. Apalagi pada saat hari Sabtu, Minggu dan hari libur lainnya (tanggal merah), showroom batik Larissa selalu dipadati pengunjung. Eddywan mengaku kunci sukses dari kegiatan usaha batiknya adalah karena selalu menjaga kualitas produk disamping terus menerus melakukan inovasi untuk mengembangkan kreasi produk dengan menciptakan desain-desain motif termutakhir. Dengan inovasi dan kreasi tanpa henti itu, Eddywan mengaku motif batik Larissa selalu berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan trend perkembangan pasar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar